04June2020

banner6
banner3
banner7
banner4
banner2
Banner Slider
banner5

Sosialisasi Menjemput Bola di Daerah Endemis Tungro untuk Identifikasi Penyakit Tungro

Identifikasi penyakit tungro masih sering mengalami perbedaan pemahaman di lapang. Masih minimnya pengetahuan tentang tungro ini dikalangan petani, penyuluh maupun civitas akademisi pertanian maka diperlukan penyebaran informasi atau dapat disebut sosialisasi. Atas dasar inilah maka Loka Penelitian Penyakit Tungro berinisiatif menjemput bola untuk mengadakan sosialisasi tentang penyakit tungro untuk menyeragamkan pandangan mengenai penyakit tungro.

Adapun kegiatan ini dilakukan di dua provinsi endemis tungro, yaitu Palu dan Bengkulu. Kegiatan ini melibatkan petugas Karantina, peneliti, teknisi dan penyuluh BPTP, dosen dan mahasiswa, penyuluh BPP serta petani. Kegiatan yang dilakukan yaitu pemaparan informasi tentang pengenalan gejala tungro, cara penyebaran penyakit, cara pengendalian penyakit serta cara mendeteksi penyakit dengan teknik cepat. Materi disampaikan menggunakan media power point oleh kepala Loka Penelitian Penyakit Tungro, Dr. Fausiah T. Ladja, SP. M.Sc dan juga pengenalan gejala langsung di lapang. Peserta juga diberikan kuisioner sebelum mendapatkan pemaparan mengenai penyakit tungro untuk mengetahui tingkat pengetahuan terhadap penyakit tungro. Materi yang disampaikan cukup efektif untuk memancing diskusi hangat setelah pemaparan informasi. Sembari ruang diskusi diadakan, kuisioner setelah sosialisasi juga diberikan pada peserta dengan pertanyaan yang sama dengan yang sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerimaan informasi melalui kegiatan sosialisasi.

Berdasarkan kuisioner yang telah direkap, didapatkan informasi bahwa pengetahuan tentang gejala tungro sebelum sosialisasi adalah 58 %. Tingkat pengetahuan ini meningkat setelah sosialisasi menjadi 77 %. Untuk pengetahuan mengenai penyebaran, sebelum sosialisasi tingkat pengetahuan peserta berada di angka 44 %. Lalu meningkat diangka 72 % setelah sosialisasi. Untuk pengendalian tungro dengan cara eradikasi atau mencabut tanaman terserang, nilai sebelum sosialisasi berada di 18 %. Nilai ini meningkat setelah sosialisasi menjadi 32 %. Sedangkan untuk deteksi cepat LAMP nilai untuk yang mengenal deteksi ini adalah 16 % untuk Bengkulu dan 3 % untuk Palu. Setelah mendapatkan sosialisasi nilai ini meningkat menjadi 44 % untuk Bengkulu dan 43 % untuk Palu. Perubahan nilai ini menunjukkan bahwa sosialisasi ini cukup efektif untuk dilaksanakan dikemudian hari di tempat endemis lainnya. Hal ini dapat dikatakan efektif karena kegiatan ini menggandeng BPTP dan BPP setempat.