04June2020

Banner Slider
banner6
banner3
banner7
banner2
banner4
banner5

Pembuatan Metarhizium Untuk Pengendalian Vektor Penyakit Tungro

Upaya pengendalian tungro paling efektif dengan menggunakan varietas tahan, selain mudah diaplikasikan, penggunaan varietas tahan dapat terlihat hasilnya dengan cepat. Selain menggunakan varietas tahan, teknologi pengendalian tungro juga dapat dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai komponen budidaya pertanaman/ teknologi pengendlian tungro lainnya.

Saat ini pengendalian penyakit tanaman yang banyak dilakukan oleh petani dengan menggunakan bahan kimia/anorganik. Walaupun hasilnya cepat, namun efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia terutama di pertanian sangat besar, tidak hanya pada lingkungan, namun juga pada ekositem mahluk hidup disekitarnya (tidak hanya hama sasaran).  Langkah bijaksana yang dilakukan dala upaya pengendaian hama penyakit tanaman diantaranya dengan kombinasi strategi pengendalian yang ramah lingkungan,. Untuk mengendalikan penyakit tungro yaitu pestisida nabati untuk mengendalikan populasi wereng hijau (Nephotettix virescens) yang merupakan vektor dari penyakit tungro.

Pembuatan pestisida nabati ini dapat menggunakan pencampuran cendawan entomopatogen, yaitu cendawan Metarhizium anisopliae dan ekstrak sambilata. Untuk kali ini akan dibahas tentang salah satu bahannya, yaitu cendawan M. anisopliae

Mengapa menggunakan cendawan M. anisopliae? M. anisopliae termasuk famili Momiliaceae. Cendawan ini banyak menginfeksi wereng hijau dilapangan, menurut informasi yang didapat dari tulisan Tsai, Kau dan Kao (1993). Disebutkan pula dalam tulisan yang berjudul Penggunaan jamur entomopatogen Metarrhizium anisopliae dan Beuveria bassiana untuk mengendalikan populasi wereng hijau oleh I Nyoman Widiarta dan D. Kusdiaman (2007) bahwa aplikasi Beauveria bassiana dan M. anisopliae menyebabkan mortalitas imago wereng hijau nyata pada 3-14 hari setelah aplikasi. Sehingga keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk menggunakan cendawan M. anisopliae sebagai pengendali jumlah wereng hijau dilapangan yang merupakan vektor penyakit tungro.

Cara pembuatan larutan pestisida M. anisopliae ini berdasar tulisan I Nyoman Widiarta dan Dini Yuliani (2017) yaitu, M. anisopliae diisolasi dari wereng hijau, dimurnikan pada media potato dextrose agar (PDA) dalam cawan petri dan siap diperbanyak.  Di Lolittungro perbanyakan cendawan M. anisopliae dengan menggunakan media biji jagung ketan (pulut) yang telah dikupas. Media biji jagung ini dimasukkan dalam kantung plastik tahan panas sebanyak 200 gram lalu distrerilkan di autoclave. Media ini kemudian diangkat dan didinginkan setelah sterilisasi. Lalu masukkan bibit M. anisopliae yang telah diisolasi di media media PDA ke dalam media jagung, ratakan dengan mengguncang-gauncang kantung plastik. Setelah itu tutup plastic dengan stapler. Amati perubahan warna setiap hari, jika ada yang berbau busuk dan basah berarti media tersebut kontam jadi dibuang. Setelah 2 pekan jamur berubah warna menjadi hijau dan siap digunakan. Di Lolittungro pembuatan larutan pestisida nabati ini menggunakan biakan cendawan dengan cara melarutkan 600 gram media jagung ke dalam 7000 ml air. Larutan ini dicampur dengan ekstrak sambilata yang akan dibahas di artikel lain.     

 

 

 

Sumber:
Tsai, Kau dan Kao. 1993. Screening of fungicide resistant of Metarhizium anisopliae var. anisopliae. vol 13
Widiarta, I. N dan D. Kusdiaman. 2007. Penggunaan jamur entomopatogen Metarrhizium anisopliae dan Beuveria bassiana untuk mengendalikan populasi wereng hijau. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan vol 26 no. 1
Widiarta, I. N dan Dini Yuliani. 2017. Pengendalian Penyakit Tungro melalui Eliminasi  Peran Vektor Wereng Hijau dengan Pengendalian Ramah Lingkungan. Jurnal Agric vol 29 no. 2