25May2018

Banner Slider
banner3
banner2
banner4

Lolittungro berpartiipasi dalam Seminar PHT di Bogor

Seminar yang diadakan oleh Fakultas Pertanian IPB (22/03) mengambil tema Menemukan Kembali PHT Kita: Memutus Lingkaran Setan Ledakan Wereng Coklat dan Virus Padi. Maraknya serangan hama penyakit yang disebabkan oleh Wereng Batang Coklat serta virus pada tanaman padi menjadi salah satu latar belakang diadakannya seminat ini.

Sejak dilaporkan pertama kali muncul tahnun 1925-1970an WBS bukan merupakan hama utama yang menyerang padi. Tuntutan produktivitas pangan dalam nergeri akan beras melalui program Bimas di tahun 70an dengan pembangunan bendungan Jatiluhur, pertama kali ledakan WBC yang menyebabkan kejadian puso. Dibarengi kejadiannya di Asia tenggara 1969-1999. Berlanjut terjadi kembali di tahun 1979, 2005, 2010, 2017 seakan ledakan WBC memiliki pola. Sejarah peristiwa ini diuraikan oleh Prof. Auna Rauf  yang juga merupakan dosen IPB bertindak sebagai narsumber dalam acara seminar tersebut.

Pakar Ekologi serangga ini, melanjutkan paparannya bahwa pemicu ledakan adalah aplikasi pestisida yang sembarangan, pemupukan N tinggi, penanaman padi secara terus-menerus, dan tidak serempak. Peristiwa fenomenal saat itu mendorong dicetuskannya Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang tertuang dalam Inpres No. 3 Tahun 1986. Seiring berjalannya waktu, model penerapan PHT berkembang dgn berbagai istilah dan turunan yang tertuang pada  UU  No.  12 tahun 1992, dan PP No. 6 tahun 1995.

Narasumber lain Prof. Damayanti menuturkan prinsip PHT diantaranya Budidaya tanaman sehat, optimasi musuh alami, pengamatan rutin, dan petani sebagai aktor, sehingga perlindungan tanaman itu ibarat penjaga gawang menjelaskan.

"Jadi kalo kita sebagai orang proteksi, ya harus ikhlas, tulus, walaupun tidak dikenal, karena konsekuensi penjaga gawang memang begitu," tutur Prof. Damayanti.  

WBC selain sebagai hama yang menyebabkan hopperburn atau gejala seperti tanaman terbakar, juga sebagai virus yang menyebabkan penyakit virus kerdil rumput dan penyakit virus kerdil hampa, tidak terkecuali vektor wereng hijau yang mampu menularkan virus tungro.

Sering terjadi adanya pola ledakan hama WBC dan insidensi penyakit  virus yang menyebar di seluruh  Indonesia dgn kehilangan hasil yang cukup besar. misalnya, baru terjadi di tahun 2017, implementasi pengendalian secara yang dapat dilakukan adalah penggunaan varietas tahan yang disesuaikan dgn tingkat biotipe WBC, misalnya Inpari 33 yang tahanterhadap WBC biotipe 1,2, dan 3 .

"Implementasi penggunaan varietas tahan tentunya masih membutuhkan keterpaduan dalam sebuah paket teknologi spesifik lokasi di daerah endemis" imbuh Dr. Fausiah T. Ladja saat sesi pemaparan tema pengendalian penyakit virus padi.