24October2018

banner3
banner2
Banner Slider
banner4

Solusi Antisipasi Gagal Panen Di Daerah Banjir

Hujan yang menguyur satu minggu terakhir menyebabkan banjir di beberapa tempat di Wajo. Banjir disebabkan meluapnya danau tempe sehingga berimbas kepada pertanaman padi petani disektarnya. Lahan yang siap panen menjadi terhambat dikarenakan genangan menyebabkan padi tidak bisa dipanen mengunakan mesin panen. Adalah Kelompok Tani Tingaradeceng Kelurahan Laelo Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo terpaksa harus panen manual dikarenakan hujan yang terus menerus turun seminggu terkahir menyebabkan meluapnya danau tempe.

Hasil panen kali ini tidaklah mengecewakan, provitas mencapai 5,5 ton/ha, Varietas yang dipanen yaitu Ciherang, dengan harga gabah ditingakat petani mencapai Rp. 4.300 GKP.

Kondisi banjir menyebabkan masalah tersendiri bagi petani di sekitar danau tempe.  Penggunaan varietas yang tahan genangan serta berumur genjah merupakan salah satu solusi  yang ditawarkan bagi budidaya padi di daerah ini.  Ungkap Fausiah sekalu LO Upsus di Kabupaten Wajo.

“Badan Litbang harus hadir mencarikan solusi bagi petani memalui teknologi yang dimiliki” ungkapanya.   

Varietas Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5 Agritan merupakan VUB tahan genangan Badan Litbang Pertanian, varietas tersebut dirakit untuk menghadapi cekaman banjir.  Selain itu varietas Inpara 6, Inpara 7, Inpara 8 Agritan, Inpara 9 merupakan varietas toleran terhadap cekaman Fe, yang banyak ditemukan pada wilayah banjir.

Daerah dekat pesisir danau tempe merupakan wilayah rawan banjir melihat lokasinya yang sangat dekat dengan Danau tempe, dilain pihak minat petani menanan padi selaku mata pencaharian hidupnya sangat tinggi di wilayah ini. Bersama dengan Kabupaten Soppeng dan Sidrap, Kabupaten Wajo merupakan salah satu wilayah yang langsung berbatasan dengan danau tempe.

Penggunaan varietas tahan genangan serta berumur genjah menjadi solusi alternatif untuk mengantisipasi gagal panen di wilayah sekitar danau tempe.