19August2018

Banner Slider
banner4
banner2
banner3

Gerakan Pengendalian Tungro di Halmahera, Maluku Utara

Maluku Utara (Malut) merupakan salah satu wilayah yang berada di bagian utara gugus kepulauan wilayah maluku, merupakan Provinsi termuda yaitu Ke 33 terbentuk. Komoditas utama yang mendukung nadi perekonomian di Malut meliputi Kopra, Pala, Cengkeh dan lain-lain.  Namun demikian pertanian tanaman pangan terutama padi menjadi  urat nadi tersendiri di wilayah Malut.  Sesuai data BPS pada tahun 2015 Luas panen Padi Maluku Utara sebesar  21.438 ha, dengan provitas rata-rata padi sebesar 35,11 ku/Ha.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh petani padi Malut yaitu adanya serangan tungro sejak tiga tahun terakhir. Informasi ini diperoleh ketika Kepala Puslitbang tanaman Pangan selaku PJ UPSUS di Wilayah Malut mendapati laporan adanya serangan tungro di Wilayah Binaan Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Utara. Melalui Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro) selaku Unit kerja dibawah Puslitbang Tanaman Pangan pada medio akhir bulan November bekerja sama dengan BPTP Maluku Utara dan Dinas Pertanian di Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Utara melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) serta penyuluhan di kedua wilayah terserang tungro.

Dr. Fausiha T. Ladja sekaligus kepala Lolittungro memberikan Bimtek Pengendalian Tungro di kedua wilayah terserang.  Kegiatan bimtek dilaksanakan di Desa Yaba, Halmahera Selatan dilakukan di Posko Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Halmahera Selatan. Hadir dalam kegiatan tersebut para Petani di wilayah Halsel, Perwakilan Dinas, Penyuluh dan Kepala  BPTP Malut beserta staf.

Pada keesokan harinya Bimtek juga dilaksanakan  di Kecamatan Kao Barat, Halmahera Utara.  Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh Kelompok Tani setempat serta perwakilan dinas penyuluh dan BPTP Malut.

Pengamatan dilapangan terlihat antusisme petani tinggi dikarenakan keluhan mereka setelah sekian lama mendapat respons berupa pengetahuan serta pengenalan teknologi pengendalian tungro yang dibawakan oleh Bu’ Uchi,begitu ia biasa disapa.

Dalam kegiatan tersebut secara langsung dijelaskan serangan tungro di lapangan, dijelaskan pula inang alternatif tungro selain padi yaitu gulma yang ada di pematang sawah. 

Lebih lanjut mereka berharap agar dibentuk posko pengendalian tungro di wilayahnya untuk mengantisipasi serangan tungro yang tiap musim serta untuk mendapatkan akses infomasi dan teknologi pengendalian tungro Ungkap Sugito petani yang hadir dalam salah satu sesi diskusi.

Dalam kegiatan tersebut dilakukan pula pemberian bantuan benih tahan tungro (taro) Inpari 37 dan Inpari 36 Lanrang masing-masing sebanyak 25 Kg kepada perwakilan petani di Kabupaten Halmahera Selatan  dan Halmahera Utara.  Diharapkan benih bantuan yang diberikan dapat diperbanyak sehingga dapat mengendalikan tungro di wilayahnya.