25May2018

Banner Slider
banner2
banner3
banner4

LOLITTUNGRO BERSAMA BABINSA MENDUKUNG UPSUS 2017/ 2018 DI SULAWESI TENGAH

Sejak 2014, program Upaya Khusus dalam mewujudkan swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah telah berhasil mencapai peningkatan produksi yang di targetkan, berdasarkan data BPS produksi padi sebesar 79,14 juta ton, sehingga dikategorikan Swasembada Beras bahkan surplus beras. Sulawesi Tengah merupakan provinsi yang memberikan kontribusi terbesar setelah Sulawesi Selatan terhadap produksi padi nasional dari pulau sulawesi, Berdasarkan Angka Tetap BPS, produksi padi Sulawesi Tengah tahun 2015 mencapai 1. 015.368 ton GKG, secara Nasional produksi padi Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2015 mempunyai kontribusi sebesar 1,35 persen dari total produksi padi nasional.  Keberhasilan tersebut adanya pengungkit utama yang sudah desain dari awal yaitu air, pupuk benih, alsintan, dan pengawalan penyuluh dan program 1000 desa mandiri benih. Secara strategis, didukung oleh Instruksi Presiden bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) turut terlibat aktif dalam memberikan pendampingan dan pengawalan kepada petani agar program swasembada pangan tercapai.

Pada tanggal 23 Oktober 2017, sebagai salah satu bentuk upaya khusus unutk meningkatkan swasembada pangan, diadakan kegiatan Temu Teknis "Pengenalan Organisme Pengganggu Tanaman Mendukung UPSUS Pajale di Sulawesi Tengah" yang diprakarsai oleh BPTP Sulawesi Tengah bersama dengan KODIM 1306 Donggala dalam rangka memberi pembekalan bagi para Babinsa. Peran aktif pada anggota TNI-AD melalui Babinsa perlu dibekali pengetahuan tentang penerapan teknologi pertanian mendukung upaya peningkatan produksi, terutama Padi, Jagung, dan kedelai yang tertuang dalam Permentan nomor 14/permentan/OT.140/03/2015 tentang pedoman pengawalan dan pendampingan terpadu penyuluh, mahasiswa, dan bintara pembina desa dalam rangka upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai.

            Sesuai dengan perannya, Penyuluh, Babinsa dan mahasiswa merupakan salah satu penggerak bagi para petani sebagai pelaku utama karena dapat berperan sebagai komunikator, fasilitator, advisor, motivator, edukator, organisator dan dinamisator. Program UPSUS yang masih berlanjut juga terus mengalami dinamika dalam pelaksanaannya. Artinya, tantangan, kendala, dan strategis pelaksanaan mengalami penyesuaian di lapangan.

Merdasarkan kondisi dilapangan, kendala serangan hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat capaian produktivitas. "Serangan penggerek batang padi selalu ada di setiap pertanaman padi, dan dirasakan merugikan petani," ungkap salah satu penyuluh yang hadir dalam kegiatan temu teknis ini. Belum lagi, "Serangan penyakit tungro, anehnya terjadi pada lahan-lahan yang sama," respon Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt., MP., Selaku Kepala BPTP Sulteng saat memaparkan beberapa alasan dari maksud diadakan temu teknis tersebut.

            Kegiatan Temu teknis yang diawali dengan arahan dari Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan Kepala BPTP Sulteng, Serta dibuka oleh Kepala Staf Kodim (Kasdim) Kodim 1306 Donggala. Formasi dalam rangkaian kegiatan ini menunjukkan pentingnya koordinasi dari berbagai stakeholderpengawal pertanian d daerah..

Melalui koordinasi Kepala BPTP meminta BPTBH Prov Sulteng, Balai Besar Penelitian Padi (BB padi), dan Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro) turut berkontribusi dalam rangkaian kegiatan temu teknis. Dalam kegiatan tersebut materi utama yang disampaikan, yaitu "Prosedur dan peran petugas pengamat hama" (BPTPH prov. Sulteng), "Hama dan Penyakit Utama Padi dan Pengelolaannya" (oleh Dr. Bambang Nuryanto, MS.), dan "Inovasi komponen pengendalian Hama dan Penyakit Padi: Tungro" (oleh Dr. Fausiah T. Ladja, SP., MSi.).

            Pada kesempatan ini pula, sebagai langkah strategis tindak lanjut untuk mengawal pertanaman musim tanam berikutnya. Lolittungro bekerjasama dengan BPTP Sulteng akan mendiseminasikan varietas unggul baru INPARI 36 LANRANG dengan teknologi Taro 36 37 pada daerah atau lahan-lahan endemis penyakit tungro di Kab. Sigi, Sulteng. Persiapann awal berupa benih INPARI 36 telah diberikan kepada BPTP melalui unit UPBS untuk dilakukan perbanyakan.