25February2018

banner4
banner3
Banner Slider
banner2

Petani Sulteng Puas Terapkan Jarwo Super Taro 36

Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar di Sulawesi setelah Sulawesi Selatan. Berdasarkan angka Tetap BPS, produksi padi Sulawesi Tengah tahun 2015 mencapai 1. 015.368 ton GKG, secara Nasional produksi padi Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2015 mempunyai kontribusi sebesar 1,35 persen dari total produksi padi nasional sebesar75,39 juta ton GKG.

Melalui Kegiatan UPSUS, Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Sulawesi Tengah melaksanakan Demfarm teknologi Badan Litbang yaitu Jajar Legowo Super dengan salah satu komponenya yaitu Varietas unggul Baru Inpari 36 Lanrang (Taro 36) sebagai upaya penyebarlusan teknologi yang dimiliki Badan Litbang Pertanian.

Disela menghadiri acara Gebyar perbenihan yang dilaksankan di Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah, Kapuslitbang Tanaman Pangan, Dr. Andriko Noto Susanto, SP, MP menyempatkan mengunjungi Demfarm yang dilaksankan BPTP Sulawesi Tengah di Kelompok Tani Sinar Harapan seluas 10 Ha.

Dalam diskusi dengan petani pelaksana Demfarm, petani sangat puas dengan penampilan padi Inpari 36  yang ditanam di lahannya, beliau memprediksi kondisi pertanman seperti ini dapat mencapai 8 ton/ha, pada musim sebelumya petani biasa menggunakan benih Mekongga dengan produktivitas berkisar 5-6 ton/ha.

Penggunaan teknologi Jarwo Super dengan Legowo 2:1 serta penggunaan Benih Taro 36 memungkinkan pertanaman dapat terhindar dari serangan HPT khususnya tungro dan kresek, sehingga menghasilkan tonase yang lebih baik dibandingkan pertanaman sebelumnya.

Melihat antusiasme petani akan benih taro 36 yang ditanam pada demfarm di lahannya,  Loka Penelitian Peyakit Tungro menidaklanjuti bersama dengan BPTP Sulawesi Tengah untuk perbanyakan benih taro 36 melalui UPBS di BPTP Sulteng.  Direncanakan kegaitan perbanyakan benih sekitar 2 Ha yang dilokasikan di KP. Sidondo.  Harapannya dengan adanya kerjasama ini bisa mengurangi luas serangana tungro serta mempercepat pendaratan inovasi teknologi yang dimiliki Badan Litbang Pertanian kepada Petani. Selain itu kerjasama ini sebagai upaya penyediaan benih unggul menyambut tahun 2018 yang dicanangkan Kementerian Pertanian sebagai tahun perbenihan.

 

Penggunaan teknologi tahan tungro berupa varietas unggul baru taro 36 37 dikombinasikan dengan teknologi lain diantaranya Jajar Legowo terbukti memberikan hasil yang lebih tinggi, input teknologi lain dalam komponen Jarwo Super diperkirakan dapat mengungkit produktivitas benih taro mendekati potensi hasilnya. Diharapkan teknologi ini dapat di adopsi pula di daerah lain khususnya endemis tungro di Indonesia. Usaha mendiseminasikan Taro 36 37 di daerah endemis lainnya perlu digencarkan, salah satunya yaitu dengan melakukan kerjasama dengan UPBS Balitbangtan setempat untuk perbanyakan benihnya.