25August2019

top banne

Jarwo BioTARO Untuk Mengendalikan Tungro

Tungro merupakan salah satu penyakit yang menyerang padi, keberadaannya di lapangan sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan padi dan apabila tidak dikendalikan dapat menyebakan penurunan hasil. Berbagai teknik pengendalian penyakit, khususnya tungro telah dikembangkan diantarnaya strategi menghindar (escape strategy) sebagai bentuk antisipasi puncak polulasi wereng hijau dan kejadian tungro dalam satu musm tanam, pemanfaatan varietas tahan, pergiliran varietas,serta  penggunaan pestisida hayati. Berbagai komponen teknologi serta kombinasinya telah dilakukan sebagai upaya dalam menekan luas serangan tungro. Namun demikian, ancaman penyakit tungro yang dibawa oleh dua jenis virus di Indonesia lokasi penyebarannya semakin luas. Walaupun secara jumlah berkurang, namun ancaman tungro sewaktu-waktu dapat muncul apabila kondisinya menguntungkan.

Keberhasilan pengendalian tungro sesuai data Ditlin TP kurun waktu 2013-2017 memperlihatkan grafik penurunan. Capaian tersebut tidak terlepas dari upaya serta teknologi yang telah diterapkan dewasa ini. Pengembangan pengendalian tungro dengan memperhatikan lingkuangan saat ini tengah dikembangakan yaitu pemanfaatan tanaman berbunga dalam mengendalikan tungro.

Salah satu teknologi pengendalian tungro yang saat ini dikembangakn yaitu Teknologi Jarwo BioTaro. Teknologi ini merupakan paket Teknologi adaptif Jajar Legowo yang dikombinasikan dengan komponen teknologi varietas unggul tahan tungro (taro) dan penamanan tanaman berbunga serta aplikasi biopestisida dalam mengendalikan tungro. Selain itu Sanitasi pematang bertujuan untuk menyiapkan bidang lahan pematang yang kemudian dioptimalkan untuk ditanami tanaman berbunga, juga untuk mengeliminasi tanaman inang alternatif virus tungro dan serangga vektor. VUB Tahan tungro menjadi komponen utama beserta teknik budidaya berupa jajar legowo serta didukung oleh  pemanfaatan tanaman berbunga, dan biopestisida untuk mengendalikan wereng hijau penyebab tungro.

Teknologi jarwo BioTaro sejalan dengan kondisi pertanian pada era revolusi hijau lestari, yang dicirikan dengan upaya meningkatkan produktivitas tanaman tanpa merusak lingkungan dan tanpa menggunakan pestisida in-organik maupun organik sintetik. Pemanfaatan tanaman berbunga sebagai salah satu komponen teknologi tidak hanya sebagai ekosistem mikroorganisme pada rantai makan yang ada di persawahan, namun secara kasat mata menjadikan nilai tambah estetika dalam lingkungan ekosistem sawah.

Tanaman Liar Ajeran (Bidenspilosa L.), Kembangtahiayam (Tagetesspp ), Kembangkertas (Zinnia spp) danTanaman Liar Danlion (Taraxacumspp ), berfungsi sebagai tanamanrefugee bagi musuh alami serangga vector di sekitar pertanaman padi. Penggunaan tanaman berbungan dalam paket teknologi BioTaro tidak terbatas tanaman berbunga yang telah disebutkan diatas,namun juga tanamaan berbunga lainnya yang menguntungkan bagi petani seperti halnya tanaman sayur-sayuran dan lain sebagainya.

Pemanfaatan varietas tahan tungro (taro) sebagai komponen utama paket teknologi Jarwo Biotaro merupakan Pengendalian paling efektif untuk mengendalikan tungro, selain karena kemudahan dalam apliaksinya, pemanfaatan varieta tahan memberikan jaminan hasil karena secara genetik tanaman memiliki gen ketahanan terhadap virus tungro dan vektor pembawa. Varietas Unggul Baru  taro  yang digunakan yaitu Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo, Inpari 36 Lanrang&Inpari 37 Lanrang.

Teknik budidaya jajar legowo (Jarwo) sebagai salah satu teknik adaptasi terhadap faktor lingkungan dalam upaya mencapai hasil pertanaman melalui pengaturan jumlah populasi tanaman pr satuan luas. Kelebihan lain dari penggunaan jarwo sebagai bagian dari komponen dasar pengendalian tungro yaitu adanya ruang kosong antar baris tanaman padi dengan sebaran ruang legowo memungkinkan wereng hijau kurang aktif berpindah antar rumpun, sehingga mengurangi penyebaran tungro dan penyakit padi yang lain.

Komponen pendukung lainnya yang tidak kalah penting yaitu pemanfaatan biopestisida serta sanitasi pematang sekitar pertanaman berguna sebagai paket pelengkap dalam budidaya teknologi Biotaro. Biopestisida yang digunakan berupa Andrometa yaitu campuran antifidan nabati dari ekstrak sambiloto dengan agen hayati cendawan entomopatogen Methariziumanisopliae. Fungsi dari aplikasi campurn biopestisida ini yaitu unutk membatasi kemampuan mengisap dan pergerakan serangga vektor sebagai  mode of action-nya

Arah tujuan pengendalian tungro senantiasa bertumpu kepada proses keberlanjutan ekosistem tanaman secara umum dalam pengendalian OPT secara ekologis dan efektif. Paket Teknologi Jarwo BioTaro sebagai paket teknologi pengendalian tungro secara umum telah sesuai dengan konsep pertanian yang berkelanjutan sebagai bagian dari revolusi hijau lestari yang saat ini tengah digalakkan.