21November2018

banner4
banner3
Banner Slider
banner2

Hari Pangan Sedunia ke-38: “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia. Salah satunya melalui optimalisasi lahan rawa menjadi lahan pertanian yang produktif mendukung peningkatan produksi pangan nasional. Isu optimalisasi lahan rawa ini menjadi tema Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 pada 18 - 21 Oktober 2018 di Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mewakili Presiden Republik Indonesia membuka secara resmi HPS ke 38 ini di tengah hamparan padi rawa seluas 750 hektar di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Dalam acara ini juga dihadiri oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, Perwakilan FAO, Bupati, Pelaku Usaha, HKTI, KTNA dan pemangku kepentingan di sektor pertanian dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Menko Perekonomian mengapresiasi langkah pemanfaatan lahan rawa untuk meningkatkan produksi pangan. Menurut beliau, ini merupakan langkah yang cerdas dan strategis dalam rangka mendukung peningkatan produksi pangan nasional untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pangan dimasa mendatang seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Namun beliau mengingatkan bahwa pembukaan lahan rawa ini harus dilakukan dengan prinsip sustainainabilitas atau berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian menyampaikan bahwa keberhasilan pemanfaatan lahan rawa di lokasi HPS merupakan pembuktian dan sekaligus harapan masa depan pangan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. “Jika dikelola dengan baik, potensi lahan rawa seluas 10 juta hektar nilainya bisa 1.000 hingga 2.000 triliun untuk pendapatan petani," kata Mentan dalam sambutannya. "Optimalisasi pertanian lahan rawa akan menjadi solusi permanen saat musim kemarau karena memiliki ketersediaan air sepanjang tahun. Ketika di daerah lain mengalami musim kemarau atau kekeringan dan gagal panen, di lahan rawa justru tetap bisa panen dan berproduksi secara optimal." tambah Mentan.(Uj/RTPH/AS)(litbang.pertanian.go.id)