17December2018

banner3
banner4
banner2
Banner Slider

Lolittungro Lakukan Penyuluhan Tentang PHT

Mengantisipasi serangan hama penyakit yang saat ini menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan peningkatan produksi Padi, pada hari Rabu, 12/09, Lolittungro adakan kegiatan Temu Lapang Pengelolaan Hama Terpadu di halaman Lolittungro.

Usaha peningkatan produksi padi saat ini dilakukan melalui upaya peningkatan produktivitas komoditas serta perlusan areal sawah baru (ekstensifikasi). Selain itu peningkatan indeks pertanaman dalam satu tahun (IP) menjadi salah satu proiritas yang tengah digalakkan saat ini. Upaya untuk menaikkan indeks lahan sawah khususnya padi adalah sistem Tanam-Panen/Olah-Tanam. Melalui penambahan penambahan luas tambah tanam upaya tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan produksi padi menunjang salah satu Program Pemerintah yaitu swasembada pangan. Namun disisi lain, dalam hal peningkatan produktivitas lahan, yang perlu diwaspadai secara serius adalah penanganan organisme penggangu tanaman (OPT) utamanya hama penyakit utama padi.

Usaha peningkatan produksi perlu dibarengi dengan usaha untuk pengamanan produksi dalam program peningkatan produktivitas tanaman dan lahan  dari gangguan hama penyakit. Pada prinsipnya adalah pengelolaan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) termasuk penyakit, melalui pencegahan secara dini dilakukan dengan pengaturan waktu tanam,  pola budidaya tanaman, penggunaan varietas unggul baru (VUB), pergiliran varietas, dan proteksi serangan hama penyakit  berdasarkan stadia tanaman,  kemudian  monitoring perkembangan dan tingkat serangan hama penyakit, serta  pengendalian massal apabila tingkat serangan sudah diatas ambang kendali.

Pendekatan pengelolaan hama/penyakit terpadu (PHT) adalah satu upaya penanganan serangan hama penyakit padi. Penerapan prinsip PHT melalui pencegahan (Protection), kedua melakukan monitoring (Surveillance activities), ketiga adalah pengendalian massal dengan pestisida (organik/anorganik). Melalaui komponen teknologi pencegahan secara dini pada prinsip PHT antara lain penggunaan varietas tahan unggul baru (VUB), pengaturan waktu tanam berdasarkan pola serangan hama/penyakit tertentu, pergiliran varietas tahan berdasarkan gen ketahanan (Gene background variety), perlakuan pestisida benih yang akan dihambur (Seed treatment).

Pemilihan verietas yang tahan terhadap hama dan menyakit merupakan sebuah usaha dari pengendalian hama terpadu yang dilakukan pada saat pra tanam. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu teknologi paling efektif dalam mengendalikan hama dan penyakit.

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan varietas yang memiliki ketahanan terhadap tungro dengan sebutan Varietas TARO (Tahan Tungro) diantaranya Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, dan Inpari 9 Elo. Selain itu untuk mengendalikan serangan wereng coklat. Varietas tahan Blas yaitu Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26 dan Inpari 27. Terbaru Badan Litbang mengeluarkan varietas Inpari 42 dan Inpari 43 yang memiliki ketahanan terhadap wereng coklat serta potensi hasil tinggi.

Tujuan dari diadakannya kegiatan temu lapang ini untuk memberikan pemahaman terhadap stakeholder pertanian perihal pentingnya pengelolaan HPT secara terpadu dalam upaya mengamankan produksi khusunya padi. Adapun tamu yang diundang diantarnaya dari Dinas Pertanian, Penyuluh/PPL serta petani dari Kabupaten Sidrap, Pinrang, Wajo dan Polewali Mandar.  Rangkaian kegiatan berupa pemberian materi dari beberapa narasumber perihal tema yang diangkat yaitu Prof. Dr. Ir. Andi Hasanuddin, MSc menjelaskan perihal konsep serta peran PHT, dan Peneliti dari Badan Litbang Pertanian  Dr. Bambang Nuryanto menjelaskan PHT Padi serta Narasumber yang berhubungan dengan pengolahan padi terpadu yaitu Dr. Ir. Ridwan Rahmat, M.Agr.

Dalam kegiatan ini juga diberikan simbolis bantuan benih produksi UPBS Lolittungro berupa Varietas TARO pada Poktan di wilayah endemis tungro yaitu di Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Pinrang.